Dikala aku mendengar.
Suara yang menyayat perih.
Suara yang memekakan telinga.
Tak bisa kusalahkan telinga ini, karna dia mendengar.
Disaat aku melihat.
Membaca fakta yang tertunda.
Membaca desus yang menggema.
Tak bisa kusalahkan mata, karna dia melihat.
Telinga berbeda.
Mata berbeda.
Punyaku ini berbeda.
Mendengar hal yang berbeda.
Melihat postur yang berbeda.
Lalu sekejap menjadi “tuna”.
itu perintahku.
itu komandoku.
Maka,
Misteri menjadi tetap wujudnya.
Tak terusik walau ada ego dan api-api setan.
Advertisement



Satu yang kuyakini.
Kesedihan ini akan berakhir seperti mereka mengakhiri kebahagiaan kita.
Dan bahagia tumbuh dari kekuatan dan ketulusan.
Aku.
Kamu.
Kita.
Sayang kmu slalu.
Dikala aku juga mendengar.
Suara yang menyayat perih.
Suara yang memekakan telinga.
Tak bisa kusalahkan telinga ini, karna dia mendengar.
Disaat aku juga melihat.
Membaca fakta yang tertunda.
Membaca desus yang menggema.
Tak bisa kusalahkan mata, karna dia melihat.
Telinga juga berbeda.
Mata juga berbeda.
Punyaku ini juga berbeda.
Mendengar hal yang juga berbeda.
Melihat postur yang juga berbeda.
Lalu sekejap menjadi “tuna”.
itu perintahku.
itu komandoku juga.
Maka,
Misteri menjadi tetap wujudnya.
Tak terusik walau ada ego dan api-api setan.
uuppps pertama nih….
kunjungan pagi menjelang siang….
makasi sudah mampir dan liat2,hehehehe….