Dikala aku mendengar.

Suara yang menyayat perih.

Suara yang memekakan telinga.

Tak bisa kusalahkan telinga ini, karna dia mendengar.

Disaat aku melihat.

Membaca fakta yang tertunda.

Membaca desus yang menggema.

Tak bisa kusalahkan mata, karna dia melihat.

Telinga berbeda.

Mata berbeda.

Punyaku ini berbeda.

Mendengar hal yang berbeda.

Melihat postur yang berbeda.

Lalu sekejap menjadi “tuna”.

itu perintahku.

itu komandoku.

Maka,

Misteri menjadi tetap wujudnya.

Tak terusik walau ada ego dan api-api setan.

Advertisement