Bicara soal kisah, tentang segala alur dan skenarionya, tak ada habisnya bila dijadikan bahan lamunan dari sebuah jendela yang menyeruak binal cahaya matahari beserta bulir-bulir halus di alur cahayanya.

Hubungan, entah itu pertemanan, persahabatan, relasi, atau berpacaran, memiliki dinamika yang tak urung bisa aku singkap bagaimana trennya, ya, tak seperti tingkat perekonomian atau harga saham yang dapat diramalkan berdasarkan tren yang ada. Tidak untuk dinamika hubungan. Kadang mesra kadang beringas. Tiga kali mesra, bisa tiga puluh kali beringas. Tujuh puluh tujuh kali mesra, bisa tujuh kali beringas. 1 mesra, 2 beringas, 3 mesra, 4 beringas,………,n mesra, n beringas.

Begitu juga dengan apa yang aku alami, yang terjadi pada skenario kisah pada garis tangan ketentuan hidupku. Begitu sakit memang bila ada deduri yang menari di atas hati pemegang perasaan. Sakit karena lupanya komit dan janji yang terucap oleh bibir penuh yakin dan harap. Sudah aku bilang tidak tetap saja iya baginya. Lalu menghujamlah berjuta-juta bela-membela, menghujanlah cela-mencela, dan berangin marah dan tangis.

Ini bisa buatku naik pitam. Marah. Salah satu kata kunci. Tapi, aku teringat dengan JebakanKonsisten, tentang cermin, cermin yang pantulkan segala zat yang ada, termasuk pula sikap, sifat dalam kisah. Lalu sejenak dalam pikirku, buat apa marah. Toh sudah ada hukum yang aku yakini sebagai kontrol umat manusia oleh-Nya. Segalanya akan berbalik, maka sebelum bersikap, ambil cermin, bersoleklah, setelah pantas barulah bersikap, setidaknya hukum balik-berbalik akan sedikit terbaca, lalu kita sesuaikan.

Lalu terngiang pesan sebuah lagu…………

Hari ini kau patahkan hatiku
Kau patahkan niatku
Kau patahkan semangatku

Entah mengapa ku masih bisa cinta
Bisa cinta padamu
Kumaafkan salahmu

Berjanjilah berjanjilah untukku
Datang padaku

Lihat mataku
Akan kucoba perhatikan kamu
Datang padaku
Rasa hatiku
Akan kucoba terus cinta kamu

Air mata tak akan ku uraikan
Hanya mengelus dada
Kumaafkan salahmu

 

oleh: Iwan Fals

Aku tidak marah. Hanya aku berharap sebuah introspeksi darinya, agar dengan segala dasar yang ada tidak mengulangi apa yang telah terjejak, agar bau jejak yang lalu tidak begitu saja disinggahkan. Berjanjilah, datang dengan segala keyakinanmu untuk tidak kehilangan aku. Maka akan ku coba menggunakan segala inderaku untuk menunggumu dan memperhatikan setiap jejak langkahmu. Aku pelajari, aku mengerti, agar kesalahan ini menjadi proses pendewasaan dan tidak percuma hadirnya.

Air mata tak akan ku uraikan …
Hanya mengelus dada …
Kumaafkan salahmu…

Entah ada apa lagi di depan sana. Tapi aku siap. Apapun itu.